Supersemar Di Tengah Dilema, Prahara dan Fakta

Kasus (Kumpulan Artikel Khusus)

Ilustrasi: Redaksi

Supersemar Di Tengah Dilema, Prahara dan Fakta

Oleh: Redaksi

Hari Sabtu kala itu, Dr. Subandrio menerima dua lembar lampiran surat tanpa nama pengirim melalui pos Jakarta. Kedua surat kaleng itu diterima oleh Subandrio pada tanggal 15 Mei 1965. Lembar pertama adalah surat pengantar yang menyatakan: “bersama surat pengantar ini dikirimkan sebuah dokumen yang berguna bagi revolusi”. Di samping itu, surat bagian kedua diperoleh dari peristiarahatan Bill Palmer. Bill Palmer adalah seorang kepala urusan perfilman Barat untuk Indonesia. Lampiran kedua berisikan sebuah konsep surat yang diketik rapi dan tidak memiliki bubuhan tanda tangan maupun paraf, namun bertuliskan Gilchrist pada akhir surat.

Rasa bingung Subandrio yang terlontar dari kedua surat kaleng tersebut, menjadikan dirinya bergegas untuk melaporkan hal itu kepada Soetarto selaku Kepala Staf BPI Brigadir Jendral Polisi. Soetarto segera melakukan proses verfikasi terkait surat Gilchrist yang dilaporkan oleh Menteri Urusan Luar Negeri (Menlu) tersebut. Berdasarkan departemen Angkatan Kepolisian menetapkan bahwasannya konsep surat Gilchrist merupakan “konsep” autentik. Hal ini diperkuat oleh kesamaan formulir yang pernah diambil BPI pada tahun 1963 dikedutaan besar Inggris sewaktu demonstrasi dan perusakan-perusakan. Sedangkan isinya tidak dapat dipastikan autentikfikasinya (Alex Dinuth, 1997: hlm 19).

Rabu, 26 Mei 1965, Menlu Subandrio melaporkan konsep beserta isi Gilchrist kepada Paduka Yang Mulia (PYM) Soekarno. Setelah membacanya, Pemimpin Besar Revolusi (PBR) Soekarno langsung memanggil para panglima angkatan. Tidak berapa lama kemudian, Istana Negara telah berkumpul Dr. Subandrio, Pangal Martadinata Laksamana Madya Laut, Pangak Sutjipto Judodihardjo Jendral Polisi, Pangad A. Yani Letjen TNI dan Pangau diwakili oleh Sri Muljono Herlambang Laksamana Muda Udara (hlm 19).

“Apakah dalam Angkatan Darat (AD) ada Dewan Jendral yang bertugas menilai kebijaksanaan politik PBR?” tanya Soekarno kepada Letjen A. Yani.

Merasa tidak tahu menahu, segera A. Yani membantah adanya Dewan Jendral yang disebutkan. Lalu Soekarno melanjutkan pertanyaan mengenai hubungan AD dengan kedutaan Inggris dan Amerika. A. Yani sekali lagi membantah adanya keterlibatan AD mengenai hubungannya dengan kedua kedutaan tersebut. Setelah terjadinya porsesi dialog antara Soekarno dan A. Yani, maka rapat Panglima dibubarkan. Malam harinya Subandrio menghadiri acara hari ulang tahun PKI ke-45 sekaligus menyebarkan copy dokumen Gilchrist kepada peserta yang hadir. Setelah Beredarnya copy surat Gilchrist maka isu mengenai Dewan Jendral semakin kuat dikalangan rakyat.

sumber gambar: http://ar-rhaudhaseluma.sch.id

Isu Dewan Jendral dan G30SPKI

Aidit selaku ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) merasa tidak nyaman dengan kehadiran isu Dewan Jendral. Rasa ketakutan D.N Aidit semakin diperparah dengan isu memburuknya kesehatan Soekarno saat Agustus 1965.

Pada tanggal 12 Agustus 1965, Sjam  menerima instruksi D.N Aidit selaku Ketua Partai bertempat di rumahnya (DN) Aidit untuk menyusun rencana gerakan terbatas dalam bentuk suatu militer (hlm 35). Dua hari berikutnya bertempat di rumah Sjam, diadakan pertemuan segi tiga Biro Khusus Central/PKI untuk menghalau isu Dewan Jendral melalui gerakan militer. Biro Khusus tersebut beranggotakan (Sjam, Pono, Walujo). Pertemuan ini memilih Letkol Untung, Mayor Udara Sujonodan, Kolonel Inf A. Latief sebagai pemimpin dari gerakan yang nanti dinamakan G30SPKI. Namun Letkol Untung dipilih menjadi komandan tertinggi gerakan tersebut karena dia merupakan Dan Yon I Cakrabirawa yang kehidupannya banyak dihabiskan untuk mengawal PYM Soekarno.

Gerakan ini mengincar tujuh Jendral yang dianggap sebagai komplotan dari yang dinamakan Dewan Jendral. Tujuh Jendral tersebut yaitu: A.H Nasution, A.Yani, Haryono MT, Suprapto, Panjaitan, S. Parman dan Sutoyo. Selain itu, Gerakan ini juga berencana menambahkan Sukarni, Hatta dan Adam Malik, karena dianggap dekat dengan Amerika. Namun Aidit menolak agar tidak membuka front yang lebih lebar (hlm 28).

Pada malam Jumat 30 September persiapan telah matang, namun diinstruksikan untuk melakukan penculikan pada Jumat dini hari. Setelah G30SPKI pecah, pada 1 Oktober jam 7 pagi rakyat dikejutkan dengan pesan dari “Dewan Revolusi” melalui siaran RRI.

“Dengan jatuhnya segenap kekuasaan negara ke tangan Dewan Revolusi Indonesia, maka kabinet Dwikora dengan sendirinya berstatus demisioner” ucap siaran RRI pada hari Jumat 1 Oktober 1965 (dokumen RRI)

Kaget dengan siaran RRI, Letjen Soeharto bergegas merebut kembali RRI yang semula  diambil alih oleh Dewan Revolusi. Segera Soeharto mengumumkan adanya gerakan militer yang telah membunuh para jendral AD. Selain itu, saat tengah malam menjelang 2 Oktober 1965, RRI juga menyiarkan keadaan PMY Soekarno dalam keadaan sehat wal’afiat, serta diumumkan pimpinan AD sementara dibawah  Presiden.

Peran Mahasiswa Pasca G30SPKI

Selasa, 5 Oktober 1965 momentum HUT TNI sekaligus penguburan para jendral yang menjadi korban G30SPKI. Hal ini juga tidak disia-siakan oleh mahasiswa yang kelak dinamakan Angkatan 66. Pada hari itu, mahasiswa melakukan demonstrasi yang diikuti sekitar 75 orang. Tema utama demonstrasi tersebut adalah mengutuk gerakan kontrarevolusioner dan Gestapu (Muridan S.W, 1999: hlm 28). Demonstrasi tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa, namun ormas-ormas yang peduli dengan rakyat. Pasca perebutan Irian Barat dan konfrontasi terhadap Malaysia, perekenomian Indonesia kian surut karena uang negara habis untuk keperluan perang saja.

Demosntrasi tersebut berlanjut hingga melahirkan konsep provokatif yaitu “Tritura (tiga tuntutan rakyat)”. Tuntutan itu, Bubarkan PKI, kedua retool kabinet Dwikora, Turunkan harga barang. Hingga pada 25 Oktober 1965 Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Mayjen Syarif Thajeb menyarankan para mahasiswa untuk membentuk kesaktuan aksi mahasiswa. Hal ini disetujui oleh mahasiswa sehingga berdirilah Kesaktuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). KAMI memiliki garis haluan gerakan secara nasional, oleh sebab itu gerakan mahasiswa semakin besar karena sebelumnya mereka tidak memiliki garis haluan nasional. KAMI begitu dekat dengan pihak militer, walaupun dirinya menganggap tidak ditunggangi oleh siapapun.

Namun tekanan yang diakibatkan oleh KAMI, membuat Soekarno bergidik hingga memutuskan untuk membubarkannya pada tanggal 25 Februari 1966. Pembubaran KAMI menjadikan mahasiswa semakin reaktif dalam menekan pemerintah.

Pada tanggal 10 Maret 1966, Laskar Ampera yang terdiri dari mahasiswa maupun rakyat, melopori aksi besar-besaran hingga memacetkan kota dan melakukan aksi-coret-coret ke beberapa departemen serta perwakilan Republik Rakyat Cina. Hal ini tidak disia-siakan oleh Kostrad yang dipimpin oleh Kemal Idris, sehingga dalam waktu singkat Istana Negara telah dikepungnya. Hal ini dikabarkan dilakukan untuk menekan Soekarno yang sedang bersidang di dalamnya. Melihat gelagat aneh tersebut, Soekarno meninggalkan sidang bersama Subandrio dan Chairil Shaleh menuju Istana Bogor.

Supersemar dan Ancaman Soeharto

Selain tekanan dari demonstrasi, Soeharto yang telah ditugaskan Soekarno melalui Keppres No. 142/KOTI/1965 untuk mengembalikan stabilisasi, justru berbalik arah tidak lagi menjamin keamanan PBR. Menurut Soeharto, dirinya tidak memiliki kekuasaan untuk mengambil tindakan mengamankan presiden, Seperti yang dikutip dalam buku Penaklukan Rezim Orde Baru.

“saya tidak bertanggung jawab terhadap keamanan Presiden kalau saya tidak diberi kekuasaan untuk mengatasi keadaan ini.” ucap Soeharto sembari menunjukan ekspresi yang serius.

Alih-alih dalam keadaan darurat Soeharto berkeyakinan tidak perlu berkonsultasi dengan DPR untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Akhirnya Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi, M. Jusuf, Amir Machmud dan Basuki Rachmad untuk memberikan wewenang (menyerahkan kekuasaan) pada Soeharto (hlm 36). Surat itu yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Namun menurut kesaksian Soekardjo Wilardjito, ada satu Jendral lagi yang ikut bersama dalam permintaan tandatangan Supersemar, yaitu Jendral Pangabean. Supersemar yang telah di ketik oleh Ali Murtopo dan Alamsyah kemudian di serahkan kepada M. Yusuf beserta ketiga orang jendral lainya untuk di bawa ke istana bogor. Sesampainya di Istana Bogor dan setelah menyodorkan surat perintah itu. Presiden sukarno merasa kaget, karena diktum yang ada di surat tersebut bukanlah diktum kepresidenan. Melainka diktum militer.

“lho. Dictumnya kok dictum militer, bukan dictum kepresidenan!”. (Soekardjo Wilardjito 2005:159)

Wilardjito membubuhkan kesaksian bahwa kop supersemar tidak resmi dari kepresidenan, namun dari kop lain. Alih-alih tidak ada waktu, Basuki Rachmad dan Pangabean langsung mencabut pistol dari sarungnya lalu mendong Soekarno agar segera menandatangani Supersemar. Merasa keamanan presiden berada di tangan sang ajudan, Wilardjito juga mengacungkan pistol ke arah Pangabean dan Basuki.

Setelah penandatanganan tersebut Soekarno semakin hilang pengaruhnya dan digantikan oleh Soeharto. Walaupun demikian Soekarno tetap menjadi Presiden, namun kekuasaan politik secara berkala telah pindah kepada Soeharto. Setahun kemudian tanggal 12 Maret 1967, MPRS resmi mencopot Presiden Soekarno. Hal ini terjadi karena MPRS menganggap Soekarno bertanggungjawab atas G30SPKI, melalui Laporan Naswakara yang telah dibuatnya. Setelah itu ketetapan MPRS XXXIII/MPRS/1967 mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945 hingga dipilihnya Presiden melalui MPR dan hasil pemilihan umum. Sampai saat ini Supersemar tidak pernah ditemukan keasliannya, hanya copy saja yang ada di Arsip Negara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s